Pemberian Subsidi Bunga 6% Untuk Pembiayaan Konsumen

Pemberian Subsidi Bunga 6% Untuk Pembiayaan Konsumen post thumbnail image

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersama dengan Komisi XI DPR telah memberikan bantuan subsidi bunga dalam bentuk langkah relaksasi kredit atau pembiayaan konsumen. Kebijakan ini diberlakukan bagi pelaku UMKM untuk menyikapi pandemi COVID19 yang memberatkan mereka dalam menyelesaikan kewajiban kredit mereka. Disebutkan dalam dokumen Kemenkeu, nilai subsidi bunga yang telah diberikan untuk merelaksasi angsuran pembiayaan konsumen berjumlah Rp 34,15 triliun. Sementara untuk perbankan, multifinance atau leasing, dan BPR, perkiraan kebutuhan subsidi bunga diestimasi mencapai Rp 27,26 triliun. 

Subsidi bunga merupakan salah satu langkah yang diambil guna mendukung kebijakan relaksasi kredit. Untuk segmen ini, penundaan cicilan dan subsidi bunga diberikan sebesar 6% selama 3 bulan pertama. Lalu, 3% selama 3 bulan berikutnya untuk kredit di bawah Rp500 juta. Sementara untuk leasing berjumlah antara Rp 500 juta-Rp 10 miliar, subsidi bunga diberikan 3% selama 3 bulan pertama. Dan 2% selama 3 bulan berikutnya. Subsidi ini akan diberikan dalam jangka waktu kurang lebih bulan April hingga September 2020. 

Relaksasi Kredit Sebagai Keringanan, Bukan Menghilangkan Kredit

pembiayaan adalah

Menurut data dari OJK, sebanyak 166 perusahaan pembiayaan telah menerima pengajuan permohonan relaksasi pembiayaan debitur dengan jumlah kontrak restrukturisasi yang disetujui oleh 253.185 nasabah. OJK sendiri juga mendukung dan merespon baik mengenai kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah ini. Namun, yang harus diketahui, pemberian relaksasi kredit ini tidak diberikan begitu saja kepada nasabah.

Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa relaksasi kredit merupakan kebijakan untuk meringankan kewajiban kredit, bukan menghilangkan. Artinya, nasabah tetap harus bertanggung jawab melunasi cicilan leasing mereka. Tindakan yang diberlakukan sebagai upaya relaksasi kredit antara lain dalam bentuk penurunan suku bunga, perpanjangan jangka waktu,pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit, dan konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara.

Selain itu, tetap diberlakukan syarat dan kriteria bagi mereka yang hendak mendapat relaksasi kredit. Diantaranya, kebijakan ini diutamakan bagi pelaku usaha yang terdampak langsung COVID19 sehingga kesulitan menjalankan kewajiban kredit yang sebelumnya lancar. Selain itu, kebijakan ini juga diberlakukan bagi mereka yang kolektibilitas kreditnya 1 (lancar) atau 2 (dalam perhatian khusus). 

Kriteria relaksasi lain yang berlaku bagi debitur bank atau perusahaan pembiayaan adalah mereka yang memiliki leasing kurang dari Rp 10 milliar, kredit kendaraan bermotor kurang dari Rp500 juta, dan kredit pemilikan rumah tipe 21, 22, sampai dengan 70.  

Hakikatnya, kebijakan ini diberlakukan selain untuk membantu pelaku UMKM menjalankan kewajiban kreditnya. Juga untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan perekonomian nasional.

Apabila Anda termasuk dalam kriteria yang telah disebutkan, maka Anda bisa menghubungi perusahaan pembiayaan terkait melalui saluran komunikasi resmi mereka. Nah, semoga ulasan diatas dapat memberi informasi mengenai relaksasi pembiayaan konsumen bagi Anda, ya.