Pinjaman

Strategi dan Tantangan Perusahaan Pembiayaan Konsumen

pembiayaan konsumen

Di tengah pandemi, perusahaan pembiayaan konsumen turut terkena imbasnya. Namun, beberapa bulan terakhir ini, perusahaan pembiayaan konsumen mulai bangkit kembali. Hal ini terbukti dari jumlah pengajuan pinjaman yang meningkat. Industri perusahaan pembiayaan pun harus mengatur strategi agar pelayanan kepada nasabah dapat dimaksimalkan. 

Namun, walaupun performa multifinance mulai meningkat, tetap ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Sukarela Batunanggar selaku Deputi Komisioner Institute dan Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menuturkan beberapa tantangan utama yang dihadapi perusahaan pembiayaan konsumen. Diantaranya adalah rendahnya financial digital di Indonesia, baik itu literasi digital maupun sumber daya digital. 

Padahal, pelayanan digital dapat menguntungkan baik nasabah maupun perusahaan. Nasabah dapat bertransaksi lebih mudah dan cepat, sehingga meningkatkan performa perusahaan pembiayaan. 

Strategi Digital Perusahaan Pembiayaan Multiguna

pembiayaan adalah

Multifinance tengah mengalami peningkatan di era new normal. Bahkan, perusahaan multifinance di Indonesia telah digadang-gadang sebagai pendorong untuk pemulihan ekonomi nasional. Berdasarkan survei oleh Markplus, sebanyak 48% dari responden memiliki intensitas yang tinggi dalam mengajukan pinjaman di era new normal. Pinjaman yang diajukan terbanyak adalah dalam bentuk dana tunai, disusul dengan leasing motor dan mobil. 

Menyikapi situasi ini, Sukarela menuturkan bahwa OJK akan menghadapi tantangan tersebut lewat 3 langkah utama. Yaitu, pihaknya menerbitkan regulasi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Hal ini penting untuk mendukung stabilitas dan perkembangan inovasi finansial. Selanjutnya adalah mengembangkan kapasitas finansial, serta industri finansial. 

Selain memaksimalkan regulasi dan strategi digital, perusahaan pembiayaan juga akan mengupayakan program-program yang menarik bagi para konsumen. Baik itu konsumen baru maupun yang sudah pernah bertransaksi sebelumnya. 

Hermawan Kertajaya selaku Founder sekaligus Chairman Markplus menyarankan bahwa perusahaan multifinance dapat menggenjot strategi digital tanpa menyampingkan pelayanan di kantor cabang. Sehingga, kedua pelayanan dapat dimaksimalkan secara efektif kepada nasabah. Hal ini karena masih banyak nasabah yang memilih untuk bertransaksi secara offline. 

Selain itu, pelayanan secara digital pun telah diimplementasikan agar konsumen bisa bertransaksi dengan lebih aman dan nyaman. Contohnya, BFI Finance dapat memberikan layanan pada nasabah melalui Whatsapp business resmi perusahaan sebagai alternatif layanan customer service. BFI Finance juga menyediakan saluran komunikasi resmi; baik melalui website, social media maupun telepon.

Melihat situasi dan strategi yang diaplikasikan oleh perusahaan multifinance sekarang ini, Suwandi Wiratno selaku Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) optimis bahwa industri multifinance dapat stabil kembali pada tahun 2021. Selain strategi yang diaplikasikan dinilai efektif dalam meningkatkan kinerja pelayanan industri tersebut. Ia juga menilai melalui portofolio multifinance yang tengah tumbuh dan didominasi oleh kendaraan.