Pinjaman

Tantangan dan Kinerja Perusahaan Leasing Selama Pandemi

perusahaan leasing

Adanya pandemi COVID19 di Indonesia turut berpengaruh pada kinerja perusahaan leasing beberapa bulan belakangan ini. Walaupun dinilai kinerja nya lebih lambat dibanding sebelum ada pandemi, namun regulator menilai stabilitasnya tetap terjaga. Hal ini didukung dengan kinerja intermediasi yang positif, serta profil risiko yang tetap terkendali. 

Anto Prabowo selaku Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK menuturkan bahwa pada bulan lalu, profil risiko perusahaan leasing di Indonesia masih termasuk dalam level terkendali walaupun ada peningkatan. Di bulan Mei 2020, rasio NPL (non performing loan) meningkat sebesar 3,01% dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan beberapa sektor telah terkena imbas pandemi COVID19.  

Di sisi lain, level likuiditas dan permodalan industri tersebut juga masih berada pada level yang memadai sejauh ini. 

Dari sisi restrukturisasi, pengajuan restrukturisasi kredit pada saat ini mulai melandai di era peralihan menuju new normal. Wimboh Santoso selaku Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghimbau seluruh perbankan dan lembaga keuangan untuk mulai menawarkan leasing kepada debitur. Baik yang telah mengajukan restrukturisasi maupun tidak. Hal ini dilakukan untuk mendorong perekonomian domestik dalam upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional. 

Tantangan yang Akan Dihadapi di Era New Normal

leasing adalah

Menurut David Sutyanto, Head of Research Ekuator Swarna Sekuritas, restrukturisasi kredit merupakan salah satu tantangan yang akan dihadapi oleh lembaga keuangan di era new normal. Hingga pertengahan bulan Juni 2020, data dari OJK menunjukan restrukturisasi senilai Rp 655,8 triliun sudah dikucurkan kepada nasabah. 

Ia juga menuturkan tantangan lain yang akan dihadapi adalah melimpahnya likuiditas. Di tengah situasi ekonomi yang tidak stabil, hal ini berkaitan dengan berjalannya penyaluran kredit perbankan. Selain itu, Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma menilai bahwa lembaga keuangan juga akan menghadapi tantangan berupa risiko menipisnya marjin bunga bersih atau net interest margin (NIM) dan potensi penurunan laba bersih pada tahun ini. Serta resiko kenaikan kredit macet, walaupun restrukturisasi kredit tetap berjalan. 

Ia menuturkan, berbagai tantangan yang akan dihadapi oleh lembaga keuangan bukan karena debitur yang tidak tertib. Melainkan karena adanya penerapan pembatasan kegiatan sosial, sehingga nasabah kesulitan untuk beroperasi. Contohnya, beroperasi dalam kegiatan penjualan atau produksi.

Diharapkan, masa transisi ke era new normal akan membuat aktivitas perekonomian berlangsung normal dan pelayanan yang diberikan lebih optimal, seiring dengan pelonggaran pembatasan kegiatan sosial. Juga cash flow debitur yang sudah membaik, sehingga pembiayaan bisa disalurkan kembali.